3 Alasan Mengapa Open Source Menarik bagi para Developer

1 month ago Kabare, Oret-oret5

Jika beberapa tahun yang lalu source code sebuah software atau produk adalah rahasia perusahaan, sekarang justru sebaliknya. Sejumlah startup memberikan akses bagi publik untuk dapat mengakses source code produk mereka, atau disebut juga dengan open source.

Ada sejumlah alasan yang membuat banyak orang mulai tertarik untuk beralih ke open source. Fleksibilitas, transparansi, dan kecepatan inovasi adalah beberapa di antaranya.

“Open source itu super agile. Karena dibuka untuk umum, permintaan fitur atau laporan bug bisa muncul kapan saja. Belum lagi kontribusi kode-kode baru dari developer lain yang masuk ke program open source tersebut,” jelas Asep Bagja Priandana, CEO dari Tanibox.

Beberapa perusahaan yang melakukan open source di antaranya adalah WordPress, Mozilla Firefox, dan Couchbase. Bahkan, Asep menjelaskan, tren open source tidak hanya dinikmati kalangan startup saja. Perusahaan besar yang terkenal “tertutup” untuk rahasia dapur teknologi mereka kini berani melakukan open source.

Salah satunya adalah Apple, yang memberikan akses open source untuk bahasa pemrograman ciptaan mereka, Swift. Hal serupa juga dilakukan Microsoft, yang menjadi memasukkan banyak kontribusi open source ke Linux Foundation. Bahkan, Microsoft kini menjadi salah satu kontributor open source terbesar di dunia.

 

Menyenangkan bagi para developer

Sumber gambar: Pexels

Menurut Asep, sifat open source yang terbuka untuk umum bisa jadi sangat menyenangkan untuk para developer. Asep merasakan hal tersebut saat ia menyediakan akses open source untuk salah satu produk Tanibox.

Developer bisa mendapatkan masukan penambahan fitur dengan cepat dari pengguna. Bahkan, pengguna bisa langsung menyarankan fitur apa yang ingin dibuat dan seperti apa coding yang tepat untuk menambah fitur tersebut. Selain itu, pengguna juga dapat membantu memeriksa dan melaporkan keberadaan bug. “Yang tidak kalah penting adalah, developer power dan network effect. Developer biasanya akan dapat ilmu-ilmu baru dari komunitas open source yang menggunakan tool atau bahasa pemrograman serupa,” jelas Asep.

Salah satu produk Tanibox yang memiliki open source adalah Tania, sistem manajemen pertanian yang menargetkan pemilik kebun atau pemilik lahan untuk mengatur operasional lahan mereka.

CEO Tanibox, Asep Bagja Priandana

Asep memutuskan untuk merilis proyek Tania secara open source karena ia merasa akan banyak orang yang memerlukan produk tersebut. Ia kemudian merilisnya di situs Hacker News dan Reddit.

“Kami launching pertama kali tanggal 11, lalu tanggal 13 dapat email dari pemilik kebun di Inggris. Seminggu kemudian, orang ini bergabung di grup diskusi open source Tania dan memberikan banyak sekali saran untuk memperkaya fitur Tania,” ceritanya.

“Dengan open source, kami tahu ternyata ada orang-orang yang bisa membantu kami untuk mengetes code kami,” tambah Asep.

 

Kebebasan bagi pengguna

Sumber gambar: Pixabay

Tidak hanya developer, pengguna layanan open source juga mendapatkan berbagai keuntungan. Di antaranya adalah transparansi, sehingga pengguna bisa mengetahui roadmap developer dalam mengembangkan suatu produk, dan bagaimana perkembangan sebuah produk.

“Selain itu, open source juga forever free. Free di sini lebih ke arah freedom, atau kebebasan. Pengguna punya kebebasan untuk mengembangkan lebih lanjut, bahkan menjual lagi produk dari open source tersebut,” jelas Asep.

Asep juga menambahkan, open source berpeluang memotong biaya operasional perusahaan. Karena, kamu bisa meminta lisensi open source ke layanan berbayar, kemudian kamu bisa mengakses layanan tersebut secara gratis atau dengan potongan harga. Untuk perusahaan, kamu bahkan bisa memotong biaya merekrut developer karena kamu bisa menawarkan nilai selain uang.

“Di Tanibox, ada dua developer tetap yang tidak kita bayar, dan mereka mau bantu. Mereka bersedia, karena ini open source, mereka suka open source, dan mereka mau bantu,” cerita Asep.

 

Mendapat masukan

Sumber gambar: Pexels

Asep berpesan kepada pada developer yang bekerja di startup atau perusahaan teknologi, agar tidak takut membuka open source untuk produknya.

“Kalau misalnya masih takut untuk open source produk pertama, bisa coba open source yang lain seperti library, atau tool pemrograman yang dapat membantu orang lain,” ujarnya.

Beberapa perusahaan yang menyediakan open source untuk beberapa fiturnya adalah AirBnB dan Google yang membuka Chromium, penyedia source code untuk browser Chrome.

“Karena saat kalian mencoba untuk buka semua kode dan memberikan transparansi pada developer, akan menyenangkan sekali bisa dapat masukan dari komunitas,” tambah Asep.

Asep juga menambahkan, visi yang dimiliki setiap developer terhadap sebuah produk pasti berbeda. Sehingga, eksekusinya juga pasti akan berbeda. Jika developer lain membuat produk lain dari open source produk kamu, belum tentu hasilnya akan sama degan produk yang kamu miliki.

“Ide itu murah, yang penting eksekusinya. Kalian yang punya open source di awal pasti punya visi yang berbeda dan lebih besar. Jadi seharusnya tidak usah takut,” dukungnya.

 

Akan tetapi, bagi developer yang memang belum siap mental untuk melakukan open source, Asep menyarankan agar mereka tidak terlalu memaksakan. Karena dengan melakukan open source, artinya kita harus siap menerima konsekuensi dari mulai menerima masukan bernada negatif hingga kompetitor yang bisa mengungguli produk kita.

Oleh karena itu, pastikan eksekusimu sudah cukup baik terlebih dahulu. Pastikan idemu memang betul-betul bisa menyelesaikan sebuah permasalahan, dan produk kamu memiliki posisi yang cukup kuat sebelum memutuskan untuk open source.

 

Liputan Tech in Asia Product Development Conference 2017 

Albert Sukmono