3 Strategi Developer Grab untuk Pengembangan Teknologi dan Layanan

20 days ago Kabare, Oret-oret2

Tiga tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2014, layanan transportasi online Grab masih merupakan startup di tahap awal yang hanya mempunyai sekitar sepuluh orang developer. Untuk mengumpulkan semua developer tersebut, kamu hanya perlu sebuah ruang pertemuan kecil dan menempatkan sebuah meja di tengah untuk mereka bekerja.

“Saat itu, aplikasi mobile kami baru hadir di sekitar satu juta smartphone dan hanya melayani satu pesanan (booking) setiap dua detik. Kami hanya mempunyai satu database, dan memproses data sebanyak beberapa gigabyte setiap hari,” kenang Ditesh Gathani, Head of Engineering dari Grab.

Saat ini, Grab telah menjadi startup unicorn yang hadir di tujuh negara Asia Tenggara. Aplikasi buatan mereka telah terpasang di sekitar 63 juta perangkat mobile, dan melayani ribuan pesanan per detik. Jumlah data yang mereka proses setiap hari pun diklaim mencapai sepuluh terabyte.

Pertanyaannya, apa yang mereka pelajari dari perjalanan tersebut? Bagaimana mereka memanfaatkan begitu banyak data yang mereka terima setiap hari?

 

Padukan kecerdasan global dengan kearifan lokal

Tahun 2014 memang merupakan tahun yang penuh warna untuk Grab. Mereka berhasil meraih pendanaan Seri A, Seri B, Seri C, dan Seri D di tahun tersebut. Di saat yang sama, mereka pun melebarkan sayap ke Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbanyak di Asia Tenggara.

Mereka tumbuh dengan sangat cepat sejak saat itu. “Kami sama-sama belum mempunyai pengalaman, sehingga kami akhirnya membuat banyak kesalahan. Namun yang saya suka dari Grab adalah kami terus berusaha untuk belajar dari masalah tersebut, dan berinovasi ke arah yang lebih baik,” jelas Gathani.

Salah satu hal yang mereka pelajari adalah pentingnya memadukan developer global dan lokal untuk membuat sebuah produk yang disukai masyarakat. Itulah mengapa mereka kini mempunyai enam pusat riset dan pengembangan di Seattle, Ho Chi Minh, Singapura, Beijing, Bangalore, dan Jakarta.

“Untuk membuat produk dengan teknologi yang canggih, kami membutuhkan para developer handal di negara-negara maju yang mungkin tidak mau hijrah ke Asia Tenggara. Namun kami juga membutuhkan orang-orang dengan pengetahuan lokal yang baik,” tutur Gathani.

Gathani mencontohkan bagaimana hal ini berjalan dengan baik ketika mereka membuat fitur pemesanan pengemudi secara langsung yang bernama GrabNow. Fitur ini hanya mereka buat di Indonesia, karena memang hanya masyarakat tanah air yang punya kebiasaan memesan ojek secara langsung.

“Sebelum memutuskan untuk membuat fitur tersebut, kami mengirim sekitar lima puluh orang tim ke Jakarta selama enam bulan, untuk mencari tahu solusi apa yang bisa kami buat di sini,” ujar Gathani.

 

Penulisan ulang kode setiap dua tahun sekali

Ditesh Gathani, Head of Engineering Grab

Hal lain yang dipelajari Gathani adalah pentingnya melakukan penulisan ulang (rewrite) kode program mereka setiap dua tahun sekali. Menurutnya, program yang berjalan saat ini tidak akan bisa berfungsi dengan baik dalam waktu beberapa tahun ke depan.

“Itulah mengapa saat ini kami sudah mempersiapkan kode yang membuat kami bisa beroperasi dengan baik dua hingga tiga tahun dari sekarang. Sejak berdiri, kami telah melakukan rewrite kode sebanyak tiga kali,” jelas Gathani.

Menurutnya, tiga tahun lalu tantangan mereka adalah bagaimana mereka bisa membuat produk yang baik dengan sumber daya yang terbatas. Namun saat ini, dengan begitu banyak developer yang mereka miliki, tantangan yang mereka hadapi pun berubah.

“Kini kami harus memanfaatkan pengalaman kami di bidang transportasi untuk membuat produk dan layanan baru, seperti layanan pembayaran GrabPay,” tutur Gathani.

 

Manfaatkan enam puluh orang data scientist

Contoh pemanfaatan big data oleh Grab

Hal lain yang tengah fokus dilakukan tim developer Grab adalah bagaimana mereka bisa memanfaatkan data yang mereka dapat setiap harinya. Untuk mengolah data tersebut, Grab pun merekrut sekitar enam puluh orang data scientist. Jumlah ini menurut mereka tiga kali lebih banyak dibanding GO-JEK dan Uber.

Dengan data tersebut, mereka bisa memberikan peringatan ketika pengemudi berkendara secara ugal-ugalan, serta memberi saran kepada pengemudi untuk mendekat ke lokasi di mana banyak pengguna berada.

“Kami bisa mengetahui kapan aktivitas belajar di sebuah sekolah selesai, atau kapan sebuah kapal biasanya merapat di pelabuhan dan mengarahkan pengemudi untuk menuju ke sana,” tutur Gathani.

Selain itu, Grab juga memanfaatkan data mereka untuk mengetahui pergerakan masyarakat di sebuah kota setiap hari. Dengan begitu, mereka bisa memberikan masukan kepada pemerintah kota tentang cara terbaik untuk mengatasi kemacetan. Hal ini telah mereka lakukan di Singapura, dan menjadi sebab munculnya fitur GrabShare.

 

Penulis: Aditya Hadi Pratama

Editor: Iqbal Kurniawan

Albert Sukmono